Bandar Lampung, 6 September 2026 – Penutupan sementara Bandara Internasional Radin Inten II di Lampung kembali diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB pada Minggu akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Perpanjangan dilakukan setelah pemantauan menunjukkan material vulkanik masih berpotensi memengaruhi keselamatan penerbangan di kawasan bandara dan ruang udara sekitarnya. Sebelumnya, operasional Bandara Radin Inten II dijadwalkan dapat kembali dibuka pada pukul 14.00 WIB setelah mengalami penutupan sejak pagi. Namun, perkembangan kondisi membuat periode penghentian operasional harus ditambah sekitar empat jam. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah pencegahan untuk memastikan pesawat tidak beroperasi dalam kondisi yang berisiko akibat abu vulkanik. Seluruh perkembangan operasional terus dievaluasi berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Penutupan Bandara Radin Inten II telah berlangsung secara bertahap sejak Minggu dini hari. Pada pembaruan awal, bandara ditutup mulai pukul 04.18 WIB dengan estimasi pembukaan kembali pukul 10.00 WIB. Setelah evaluasi berikutnya, masa penutupan diperpanjang melalui pemberitahuan informasi aeronautika dan dijadwalkan berlangsung hingga pukul 14.00 WIB. Pemeriksaan lanjutan kemudian menunjukkan kondisi belum memungkinkan operasional penerbangan berjalan normal sehingga penutupan kembali diperpanjang sampai pukul 18.00 WIB. Perubahan waktu tersebut menggambarkan kondisi sebaran abu yang dinamis dan membutuhkan pemantauan secara berkala. Otoritas penerbangan menempatkan faktor keselamatan sebagai pertimbangan utama sebelum memberikan izin pembukaan kembali bandara.
Perpanjangan penutupan juga berdampak terhadap jadwal penerbangan yang menghubungkan Lampung dengan sejumlah kota lainnya. Maskapai harus melakukan penyesuaian berupa pembatalan maupun perubahan jadwal karena pesawat tidak dapat melakukan lepas landas dan pendaratan selama bandara berstatus ditutup. Dampaknya tidak hanya dirasakan penumpang yang akan berangkat dari Lampung, tetapi juga pengguna jasa yang memiliki penerbangan menuju Bandara Radin Inten II. Perubahan rotasi pesawat berpotensi memberikan efek lanjutan terhadap jadwal penerbangan berikutnya. Maskapai dan pengelola bandara karena itu perlu melakukan penataan kembali jadwal setelah operasional dapat dipulihkan. Penumpang diminta terus memeriksa status penerbangannya sebelum menuju bandara karena perubahan masih dapat terjadi mengikuti kondisi ruang udara.
Gangguan di Bandara Radin Inten II merupakan bagian dari dampak lebih luas aktivitas Gunung Anak Krakatau terhadap transportasi udara pada Minggu. Sejak pagi, sejumlah bandara di Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat harus menghentikan sementara operasional setelah abu vulkanik terdeteksi atau dinilai berpotensi membahayakan penerbangan. Jumlah bandara yang terdampak juga berkembang mengikuti pergerakan material vulkanik dan hasil pemeriksaan di masing-masing lokasi. Pada pembaruan terbaru, delapan bandara tercatat mengalami penutupan sementara dengan periode yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya harus memperpanjang masa penutupan karena kondisi belum memenuhi persyaratan keselamatan untuk penerbangan. Situasi tersebut membuat jaringan penerbangan nasional mengalami penyesuaian dalam skala cukup luas.
Kementerian Perhubungan sebelumnya memastikan perpanjangan penutupan dilakukan setelah evaluasi terhadap kondisi abu vulkanik di sejumlah bandara. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan keputusan operasional harus mengutamakan keamanan dan keselamatan penumpang maupun awak pesawat. Pemeriksaan dilakukan secara berkala untuk memastikan apakah material vulkanik masih berada di lingkungan bandara atau ruang udara yang digunakan untuk penerbangan. Apabila hasil evaluasi menunjukkan risiko masih ada, pembukaan kembali bandara dapat ditunda meskipun estimasi sebelumnya telah ditetapkan. Sebaliknya, operasional dapat kembali dilakukan apabila kondisi dinyatakan memenuhi persyaratan keselamatan. Mekanisme tersebut membuat waktu penutupan bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan aktual.
AirNav Indonesia juga terus memperketat pemantauan terhadap ruang udara dan pergerakan abu vulkanik melalui Indonesia Network Management Center. Informasi mengenai kondisi ruang udara disampaikan melalui mekanisme pelayanan informasi aeronautika, termasuk penerbitan dan pembaruan NOTAM. Koordinasi dilakukan dengan pengelola bandara, maskapai penerbangan, otoritas terkait, serta pemangku kepentingan lainnya agar setiap perubahan dapat segera ditindaklanjuti. Langkah tersebut penting karena material vulkanik dapat bergerak mengikuti perubahan arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian. Kondisi yang dinilai aman pada satu periode belum tentu sama beberapa jam kemudian. Karena itu, pemantauan berkelanjutan menjadi dasar untuk menentukan apakah penerbangan dapat kembali berlangsung secara normal.
Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena partikel yang sangat halus dapat memberikan dampak terhadap mesin dan sejumlah komponen pesawat. Material tersebut juga dapat mengurangi jarak pandang serta mengganggu kondisi operasional di kawasan bandara. Risiko tersebut membuat prinsip kehati-hatian diterapkan ketika terdapat indikasi abu vulkanik di jalur penerbangan. Penutupan sementara dipilih untuk mencegah pesawat memasuki kondisi yang belum dapat dipastikan aman. Langkah ini juga menjelaskan mengapa operasional bandara dapat dihentikan meskipun secara kasat mata kondisi di sekitar terminal terlihat relatif normal. Keputusan pembukaan kembali harus menunggu hasil pemeriksaan dan evaluasi keselamatan yang memadai.
Aktivitas Anak Krakatau yang memicu gangguan tersebut merupakan kelanjutan peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi sejak beberapa hari terakhir. Erupsi menerus mulai teramati pada Jumat malam sekitar pukul 23.07 WIB dengan suara gemuruh atau dentuman serta fenomena pancaran lava. Abu yang dihasilkan kemudian terbawa angin dan menyebar ke berbagai wilayah di sekitar Selat Sunda hingga bagian lain Pulau Jawa dan Sumatera. Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga yang telah berlaku sejak 2 Juli 2026. Masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pengguna kapal tradisional diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Pemantauan terhadap aktivitas gunung terus dilakukan bersamaan dengan penanganan dampak sebaran abu terhadap masyarakat dan transportasi.
Bagi pengguna jasa Bandara Radin Inten II, perpanjangan penutupan hingga pukul 18.00 WIB membuat kepastian jadwal perjalanan perlu diperiksa langsung melalui maskapai masing-masing. Penumpang sebaiknya tidak hanya mengandalkan jadwal awal karena pembatalan, penundaan, maupun penyesuaian waktu keberangkatan dapat terjadi selama kondisi belum sepenuhnya normal. Setelah bandara kembali dibuka, pemulihan jadwal penerbangan juga berpotensi berlangsung secara bertahap akibat perubahan rotasi pesawat dan awak selama periode penutupan. Kondisi tersebut dapat membuat beberapa penerbangan tetap mengalami keterlambatan meskipun aktivitas bandara sudah kembali berjalan. Pengelola bandara dan maskapai akan melakukan penyesuaian berdasarkan ketersediaan pesawat serta kondisi ruang udara. Penumpang diharapkan tetap tenang dan mengikuti pemberitahuan terbaru mengenai penerbangan masing-masing.
Perpanjangan penutupan Bandara Radin Inten II hingga pukul 18.00 WIB menunjukkan dampak erupsi Anak Krakatau terhadap sektor penerbangan masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Otoritas penerbangan akan terus melakukan pemeriksaan sebelum menentukan apakah bandara dapat kembali beroperasi setelah batas waktu tersebut. Apabila abu masih terdeteksi dan dinilai berisiko, tidak tertutup kemungkinan dilakukan penyesuaian kembali terhadap status operasional bandara. Sebaliknya, penerbangan dapat dipulihkan secara bertahap setelah seluruh parameter keselamatan dinyatakan memenuhi ketentuan. Masyarakat yang memiliki agenda perjalanan udara dari maupun menuju Lampung diminta terus memantau perkembangan jadwalnya. Keselamatan penumpang, awak pesawat, dan seluruh kegiatan penerbangan tetap menjadi pertimbangan utama selama dampak abu vulkanik Anak Krakatau belum sepenuhnya berakhir.





