Jakarta, 5 September 2026 – Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional meningkatkan operasi militernya terhadap kelompok Houthi dengan melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah posisi kelompok tersebut. Pejabat dan sumber militer Yaman menyebut pesawat tempur pemerintah memasuki pertempuran yang berlangsung sengit di wilayah barat negara itu, terutama di Provinsi Taiz dan Hodeidah. Operasi tersebut berlangsung ketika pasukan pemerintah menghadapi serangan besar Houthi di sejumlah garis depan yang berdekatan dengan kawasan strategis Bab al-Mandab. Pertempuran dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu eskalasi paling serius setelah Yaman sempat mengalami periode relatif tenang sejak 2022. Pemerintah Yaman menyatakan serangan udara dilakukan untuk memberikan dukungan kepada pasukan darat sekaligus menekan posisi dan pergerakan militer Houthi.
Pesawat tempur Yaman dilaporkan melakukan sedikitnya 15 serangan terhadap posisi Houthi di Taiz dan Hodeidah pada Jumat, 4 September 2026. Salah satu sasaran berada di front Hays, sebelah barat Taiz, tempat pertempuran darat berlangsung antara kedua kubu. Militer Yaman mengatakan dukungan udara diberikan untuk membantu pasukan pemerintah yang menghadapi tekanan dari serangan Houthi. Operasi tersebut menandai keterlibatan lebih besar kekuatan udara pemerintah dalam pertempuran yang kembali meningkat sejak Juli. Sejumlah lokasi yang digunakan Houthi untuk mendukung operasi militernya juga dilaporkan menjadi sasaran.
Eskalasi terjadi setelah Houthi melancarkan ofensif besar di kawasan barat Yaman dengan mengerahkan personel, kendaraan, serta persenjataan ke beberapa garis depan. Pertempuran sengit terjadi di Taiz dan Hodeidah, dua wilayah yang memiliki posisi penting karena berdekatan dengan jalur menuju Selat Bab al-Mandab. Pasukan pemerintah kemudian melakukan serangan balasan untuk mempertahankan wilayah yang dikuasainya dan mencegah Houthi memperoleh posisi baru. Pertempuran darat juga dibarengi penggunaan artileri, pesawat nirawak, roket, serta dukungan udara. Intensitas pertempuran membuat kekhawatiran mengenai kembalinya perang Yaman dalam skala besar semakin meningkat.
Bab al-Mandab memiliki nilai strategis yang jauh melampaui kepentingan domestik Yaman. Selat tersebut menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu jalur penting perdagangan serta pelayaran internasional. Pergerakan pasukan menuju kawasan yang menghadap selat itu karena itu mendapatkan perhatian luas. Pemerintah Yaman berupaya mempertahankan wilayah pesisir dan jalur darat yang berada di bawah kendalinya, sementara Houthi berusaha meningkatkan tekanan di front barat. Perubahan penguasaan wilayah di sekitar kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap keamanan pelayaran di Laut Merah.
Pertempuran terbaru juga menimbulkan korban besar di kedua pihak. Sedikitnya puluhan tentara pemerintah dan anggota Houthi dilaporkan tewas sejak pertempuran meningkat pada Kamis, 3 September 2026. Laporan dari sejumlah fasilitas kesehatan menunjukkan korban terus berdatangan dari front Taiz dan Hodeidah. Selain korban dari kalangan kombatan, warga sipil kembali menghadapi risiko akibat pertempuran yang berlangsung dekat dengan kawasan permukiman. Gelombang pengungsian juga terjadi ketika keluarga meninggalkan daerah yang dianggap semakin berbahaya. Situasi tersebut memperburuk kondisi kemanusiaan Yaman yang sebelumnya telah mengalami dampak perang selama lebih dari satu dekade.
Di Taiz, pertempuran menjadi salah satu titik utama karena Houthi berusaha menekan posisi pasukan pemerintah dari beberapa arah. Militer Yaman merespons dengan memperkuat pertahanan sekaligus melakukan serangan balasan di sejumlah front. Pesawat tempur kemudian digunakan untuk menyerang posisi yang dianggap mendukung ofensif Houthi. Dukungan udara memberi dimensi baru terhadap operasi pemerintah yang sebelumnya banyak mengandalkan pasukan darat, artileri, dan pesawat nirawak. Pemerintah juga meningkatkan kesiapan unit militer dan keamanan untuk menghadapi kemungkinan perluasan pertempuran.
Ketegangan sebenarnya telah meningkat secara bertahap sejak Juli 2026 setelah periode deeskalasi yang berlangsung selama beberapa tahun mulai mengalami tekanan. Bentrokan kembali terjadi di sejumlah provinsi, termasuk Marib, Al-Jawf, Al-Dhalea dan Taiz. Pemerintah Yaman sebelumnya juga melakukan serangan terhadap lokasi peluncuran rudal, pesawat nirawak, serta gudang senjata Houthi di beberapa wilayah. Pada saat bersamaan, Houthi meningkatkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap wilayah yang berada di bawah kendali pemerintah maupun sasaran lain di kawasan. Rangkaian aksi tersebut memperlihatkan bahwa keseimbangan rapuh yang sebelumnya menahan konflik agar tidak kembali menjadi perang terbuka semakin terancam.
Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi sebelumnya telah memerintahkan angkatan bersenjata meningkatkan kesiagaan menghadapi eskalasi. Pemerintah menyatakan setiap serangan Houthi terhadap wilayah yang berada di bawah kendalinya akan mendapatkan respons. Meski demikian, otoritas Yaman juga menghadapi tantangan besar karena konflik telah berlangsung sejak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah wilayah lainnya pada 2014. Perpecahan politik, ekonomi, dan teritorial masih membuat penyelesaian konflik menjadi sangat kompleks. Dukungan berbagai kekuatan regional kepada pihak-pihak yang terlibat turut menambah dimensi geopolitik dalam perang tersebut.
Kembalinya serangan udara dan pertempuran besar juga memunculkan kekhawatiran terhadap upaya perdamaian yang selama beberapa tahun berusaha mempertahankan deeskalasi. Yaman mengalami penurunan intensitas pertempuran setelah gencatan senjata yang dimediasi pada 2022, meskipun kesepakatan formal tersebut kemudian berakhir dan bentrokan sporadis tetap terjadi. Periode relatif tenang memberikan ruang bagi pembicaraan politik dan upaya penanganan krisis kemanusiaan. Namun, perkembangan sejak pertengahan 2026 menunjukkan bahwa ketegangan kembali meningkat di berbagai garis depan. Eskalasi di Taiz dan Hodeidah kini menjadi salah satu ujian terbesar terhadap kemungkinan mempertahankan jalur penyelesaian politik.
Pemerintah Yaman menyatakan operasi militernya akan terus disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan, sementara pasukan di berbagai front diminta mempertahankan tingkat kesiapan tinggi. Serangan udara terbaru menunjukkan pemerintah mulai menggunakan kemampuan militernya secara lebih luas untuk menghadapi ofensif Houthi. Di sisi lain, berlanjutnya pertempuran berpotensi meningkatkan jumlah korban, memperluas pengungsian, dan memperburuk krisis kemanusiaan yang telah lama membayangi Yaman. Perhatian internasional kini tertuju pada apakah pertempuran di sekitar Taiz, Hodeidah dan Bab al-Mandab dapat dibatasi atau justru berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Situasi tersebut sekaligus menempatkan keamanan kawasan Laut Merah kembali dalam tekanan setelah beberapa tahun terakhir berulang kali menghadapi gangguan akibat konflik regional.





