Jakarta, 2 Mei 2026 — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkap sejumlah faktor utama yang menyebabkan Indonesia masih bergantung pada impor liquefied petroleum gas (LPG) dalam jumlah besar setiap tahunnya.
Menurut Bahlil, kebutuhan LPG nasional yang tinggi belum dapat sepenuhnya dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sehingga impor menjadi solusi untuk menjaga pasokan tetap stabil.
Produksi Dalam Negeri Belum Mencukupi
Salah satu penyebab utama adalah keterbatasan produksi LPG domestik. Meski Indonesia memiliki sumber daya energi, kapasitas pengolahan dan produksi LPG belum mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Tingginya Konsumsi Rumah Tangga
LPG menjadi kebutuhan utama bagi rumah tangga, terutama untuk memasak. Program konversi energi dari minyak tanah ke LPG beberapa tahun lalu juga meningkatkan konsumsi secara signifikan.
Ketergantungan Impor yang Berlanjut
Akibat ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi, Indonesia masih harus mengimpor LPG dalam jumlah besar setiap tahun. Hal ini berdampak pada neraca perdagangan dan ketahanan energi nasional.
Upaya Kurangi Ketergantungan
Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan impor melalui berbagai strategi, termasuk peningkatan produksi dalam negeri dan pengembangan energi alternatif.
Pengembangan Infrastruktur Energi
Bahlil menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur energi, seperti kilang dan fasilitas pengolahan, untuk meningkatkan kapasitas produksi LPG nasional.
Diversifikasi Sumber Energi
Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada LPG. Penggunaan energi terbarukan menjadi salah satu fokus utama.
Tantangan ke Depan
Meski berbagai upaya dilakukan, tantangan dalam mengurangi impor LPG masih cukup besar. Dibutuhkan investasi dan kebijakan yang konsisten untuk mencapai kemandirian energi.
Dampak bagi Ekonomi
Ketergantungan impor LPG juga berdampak pada ekonomi, terutama dalam hal pengeluaran devisa. Oleh karena itu, pengurangan impor menjadi salah satu prioritas.
Harapan Kemandirian Energi
Pemerintah berharap langkah-langkah yang diambil dapat secara bertahap mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan ketahanan energi nasional.
Pernyataan Bahlil ini memberikan gambaran jelas mengenai tantangan energi yang dihadapi Indonesia sekaligus arah kebijakan yang akan ditempuh ke depan.



