Jakarta, 21 September 2026 – Sebanyak 35 kantor berita dari kawasan Asia Pasifik berkumpul di Moskow, Rusia, untuk membahas berbagai perkembangan dalam industri informasi, termasuk langkah bersama menghadapi penyebaran disinformasi dan berita palsu yang semakin cepat. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rapat Dewan Eksekutif ke-58 Organization of Asia-Pacific News Agencies (OANA) yang dimulai pada Minggu, 20 September 2026. Forum dibuka Presiden OANA sekaligus Direktur Jenderal TASS Andrey Kondrashov dengan menghadirkan pimpinan senior kantor berita dari berbagai negara. Selain persoalan disinformasi, peserta membicarakan perkembangan organisasi, transformasi digital, hingga agenda kerja sama antaranggota. Pertemuan di Moskow sekaligus menjadi bagian dari peringatan 65 tahun berdirinya OANA.
OANA saat ini memiliki 41 kantor berita anggota yang berasal dari 35 negara, dengan 13 di antaranya duduk dalam Dewan Eksekutif. Organisasi tersebut dibentuk pada 1961 atas inisiatif UNESCO dengan tujuan memfasilitasi pertukaran berita secara langsung dan bebas di antara kantor berita di kawasan Asia Pasifik. Pertemuan Dewan Eksekutif diselenggarakan setiap tahun, sementara penyelenggaraan sebelumnya berlangsung di China. Dalam pertemuan di Moskow, para anggota membahas bagaimana organisasi dapat merespons perubahan besar dalam ekosistem informasi global. Kemunculan teknologi baru dan semakin mudahnya informasi menyebar lintas negara membuat kerja sama antarorganisasi media dipandang semakin penting.
Salah satu perhatian utama dalam rangkaian pertemuan adalah meningkatnya penyebaran informasi palsu yang dapat bergerak dengan cepat melalui berbagai platform digital. Pada hari kedua, peserta dijadwalkan mengikuti diskusi mengenai pendekatan untuk menangkal penyebaran disinformasi dan berita palsu. Perkembangan kecerdasan buatan juga masuk dalam agenda melalui panel bertema metodologi dan etika media di era digital. Selain itu, OANA menjadwalkan pembahasan dan penandatanganan nota kesepahaman dengan Global Fact-Checking Network. Rangkaian pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan industri informasi kini tidak hanya berkaitan dengan kecepatan menyampaikan berita, tetapi juga kemampuan menjaga ketepatan dan kredibilitas informasi.
Indonesia turut mengambil bagian dalam forum tersebut melalui delegasi yang dipimpin Benny Siga Butarbutar. Dalam pertemuan informal, delegasi Indonesia berdialog dengan sejumlah pimpinan kantor berita dari kawasan ASEAN, termasuk Malaysia, Filipina, dan Laos, mengenai peluang memperkuat kerja sama kantor berita di Asia Tenggara. Gagasan pengembangan kolaborasi tersebut turut mendapat perhatian dari perwakilan Jepang yang membuka kemungkinan format kerja sama ASEAN+1. Pimpinan kantor berita Nepal, Sandip Rai, juga menunjukkan ketertarikan untuk terlibat dalam dialog regional yang lebih aktif. Komunikasi tersebut diarahkan untuk memperkuat jaringan pertukaran informasi sekaligus memahami tantangan dan peluang yang dihadapi masing-masing organisasi.
Pertemuan Moskow juga membahas sejumlah agenda internal OANA, termasuk perluasan susunan komite teknis dan komite etik. Pembaruan teknis terhadap situs organisasi telah diselesaikan sebagai bagian dari transformasi digital yang dilakukan OANA. Vietnam melalui Vietnam News Agency juga dikonfirmasi menjadi tuan rumah pertemuan Dewan Eksekutif berikutnya. Pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di Hanoi pada 2027, dengan agenda tahunan diproyeksikan berlangsung sekitar Maret atau April. Keputusan itu menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan komunikasi dan kerja sama di antara anggota organisasi.
Keberadaan OANA memiliki posisi penting karena anggotanya berasal dari kawasan dengan populasi dan arus informasi yang sangat besar. Kerja sama antarkantor berita memungkinkan pertukaran konten berlangsung lebih luas sekaligus memberikan akses terhadap informasi langsung dari berbagai negara. Dalam situasi ketika disinformasi dapat menyebar lintas batas dalam waktu singkat, jaringan profesional antarorganisasi berita dapat membantu memperkuat proses verifikasi dan pertukaran informasi. Forum seperti pertemuan di Moskow juga memberikan kesempatan bagi pimpinan kantor berita untuk membahas standar profesional serta perubahan teknologi yang memengaruhi produksi dan distribusi berita. Perkembangan kecerdasan buatan membuat persoalan etika, transparansi, dan akurasi semakin relevan untuk dibicarakan bersama.
Rangkaian pertemuan di Moskow diharapkan memperkuat komunikasi di antara kantor berita Asia Pasifik dalam menghadapi perubahan cepat pada ekosistem informasi global. Pembahasan mengenai disinformasi, kecerdasan buatan, etika media, transformasi digital, dan kerja sama regional menunjukkan luasnya tantangan yang dihadapi industri berita saat ini. Setelah forum tersebut, agenda organisasi akan berlanjut menuju pertemuan berikutnya di Hanoi pada 2027. Kerja sama yang dibangun melalui OANA juga membuka ruang bagi kantor berita anggota untuk memperluas pertukaran informasi dan meningkatkan kemampuan menghadapi berita palsu. Di tengah derasnya arus informasi digital, akurasi dan proses verifikasi tetap menjadi unsur penting untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap pemberitaan.




