Jakarta, 17 September 2026 – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjajaki penguatan kolaborasi dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) untuk melibatkan perguruan tinggi secara lebih langsung dalam pembangunan desa. Kerja sama diarahkan melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi setiap desa. Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto pada 15 September 2026. Kedua kementerian mengeksplorasi skema yang memungkinkan perguruan tinggi memberikan pendampingan berdasarkan keahlian fakultas atau program studi. Dengan pola tersebut, keterlibatan kampus diharapkan tidak bersifat umum, melainkan menjawab persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Kolaborasi juga diharapkan mempertemukan sumber daya akademik dengan berbagai potensi ekonomi dan sosial yang dimiliki desa secara lebih tepat sasaran.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menjelaskan konsep yang sedang disiapkan antara lain melalui pencocokan atau matching antara perguruan tinggi dengan desa. Fakultas maupun program studi yang mempunyai kompetensi sesuai kebutuhan suatu wilayah dapat diarahkan untuk melakukan pendampingan. Artinya, setiap kampus tidak harus menangani seluruh persoalan desa secara bersamaan. Perguruan tinggi dapat memusatkan sumber daya pada bidang yang benar-benar sesuai dengan keahlian akademiknya. Pendekatan tersebut diharapkan membuat penelitian, inovasi, dan pengabdian masyarakat memberikan hasil yang lebih terukur. Desa pada saat yang sama dapat memperoleh dukungan pengetahuan dan teknologi berdasarkan kebutuhan yang mereka hadapi.
Pendampingan dirancang dapat berlangsung secara tematik mengikuti karakter dan potensi ekonomi masing-masing desa. Bidang pertanian, peternakan, perikanan, ekonomi kreatif, hingga kebudayaan menjadi beberapa sektor yang dapat dipertemukan dengan kompetensi perguruan tinggi. Desa dengan potensi pertanian, misalnya, dapat didampingi fakultas atau program studi yang memiliki kemampuan dalam teknologi budidaya, pengolahan hasil, maupun pengembangan produk. Pendekatan serupa dapat diterapkan terhadap desa yang memiliki potensi perikanan atau peternakan dengan melibatkan bidang akademik yang relevan. Sementara itu, perguruan tinggi dengan kompetensi ekonomi dan bisnis dapat berkontribusi terhadap pengembangan usaha masyarakat serta pemasaran produk. Pola berbasis kebutuhan tersebut diharapkan membuat program pendampingan lebih sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Kemendes PDT menyambut peluang tersebut karena pemerintah telah menjalankan sejumlah program pengembangan desa yang dapat dipertemukan dengan kapasitas perguruan tinggi. Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian adalah pengembangan desa tematik. Mendes PDT Yandri Susanto menilai model tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat desa dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan pengetahuan dan inovasi. Ia mencontohkan program desa ekspor yang disebut mampu mendorong peningkatan pendapatan masyarakat. Pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu dasar untuk memperluas pendampingan sesuai karakter ekonomi desa lainnya. Perguruan tinggi diharapkan dapat membantu memperkuat program yang telah berjalan sekaligus memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang ditemukan selama pengembangannya.
Kolaborasi tersebut juga memberikan ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi secara lebih dekat dengan masyarakat. Penelitian dapat diarahkan pada persoalan yang benar-benar ditemukan di lapangan sehingga hasilnya mempunyai peluang lebih besar untuk diterapkan. Mahasiswa juga dapat memperoleh pengalaman pembelajaran melalui keterlibatan dalam kegiatan pembangunan masyarakat sesuai kompetensi masing-masing. Desa dengan demikian tidak hanya menjadi lokasi kegiatan akademik, tetapi ditempatkan sebagai mitra dalam penyusunan dan pelaksanaan program. Interaksi tersebut memungkinkan perguruan tinggi memahami persoalan masyarakat secara lebih utuh sebelum menawarkan solusi. Pada saat yang sama, masyarakat dapat memperoleh akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang dikembangkan di lingkungan kampus.
Pelibatan perguruan tinggi berpotensi menjadi penting ketika desa menghadapi tantangan peningkatan produktivitas dan nilai tambah produk lokal. Banyak wilayah mempunyai sumber daya yang potensial tetapi masih membutuhkan dukungan dalam pengolahan, standardisasi produk, teknologi produksi, hingga pengembangan pasar. Keahlian yang tersedia di perguruan tinggi dapat digunakan untuk membantu menjawab kebutuhan tersebut melalui program yang disusun bersama masyarakat. Penelitian juga dapat membantu mengidentifikasi komoditas maupun kegiatan ekonomi yang paling sesuai dengan kondisi suatu wilayah. Dengan pendekatan berbasis data, program pengembangan desa dapat dirancang berdasarkan potensi aktual dan bukan sekadar menggunakan pola yang sama untuk semua daerah. Model seperti ini juga memungkinkan keberhasilan program dievaluasi secara lebih sistematis.
Kerja sama Kemdiktisaintek dan Kemendes PDT sebenarnya telah memperoleh landasan melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada April 2026. Kesepakatan tersebut diarahkan untuk memperkuat sinergi pembangunan desa berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Penjajakan terbaru kemudian memperdalam bagaimana kapasitas perguruan tinggi dapat dipertemukan secara konkret dengan program pembangunan desa. Pendekatan pencocokan kampus dan desa menjadi salah satu mekanisme yang sedang dieksplorasi untuk menerjemahkan kerja sama tersebut ke tingkat implementasi. Dengan demikian, kolaborasi tidak berhenti pada kesepakatan antarkementerian, tetapi diarahkan menuju keterlibatan dosen, mahasiswa, program studi, serta masyarakat desa. Bentuk teknis pelaksanaannya masih akan dibahas lebih lanjut oleh kedua kementerian.
Keberlanjutan pendampingan menjadi salah satu aspek penting apabila keterlibatan perguruan tinggi ingin memberikan dampak jangka panjang. Program yang hanya berlangsung singkat berisiko berhenti sebelum masyarakat mempunyai kemampuan untuk mengembangkan hasil pendampingan secara mandiri. Karena itu, hubungan kampus dan desa dapat diarahkan menjadi kemitraan yang memungkinkan transfer pengetahuan berlangsung secara bertahap. Mahasiswa dari angkatan berbeda dapat melanjutkan program yang telah dirintis sebelumnya, sedangkan dosen dapat melakukan penelitian lanjutan berdasarkan perkembangan di lapangan. Pemerintah desa juga dapat menggunakan hasil kajian sebagai bahan dalam menyusun program pembangunan. Pola berkelanjutan tersebut berpotensi membuat pengetahuan akademik semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat.
Keterlibatan kampus sekaligus membuka peluang pengembangan inovasi yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat. Teknologi tepat guna, pengolahan hasil pertanian, digitalisasi pemasaran, penguatan kelembagaan usaha, hingga pelestarian budaya dapat dikembangkan berdasarkan karakter desa yang menjadi mitra. Tidak seluruh solusi harus menggunakan teknologi yang kompleks karena kebutuhan setiap daerah berbeda. Inovasi sederhana yang mampu mengurangi biaya produksi atau meningkatkan kualitas produk dapat memberikan dampak ekonomi yang berarti bagi masyarakat. Perguruan tinggi juga dapat membantu mengukur efektivitas inovasi sebelum diterapkan dalam skala lebih luas. Dengan cara tersebut, desa dapat menjadi ruang penerapan ilmu pengetahuan sekaligus sumber persoalan nyata yang memperkaya kegiatan penelitian dan pembelajaran di perguruan tinggi.
Ke depan, Kemdiktisaintek dan Kemendes PDT akan mengeksplorasi lebih lanjut bentuk kolaborasi yang dapat menghubungkan program pengembangan desa dengan kapasitas perguruan tinggi. Fokusnya adalah menciptakan hubungan yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di kampus. Penentuan perguruan tinggi, bidang keahlian, dan desa yang akan didampingi dapat disesuaikan dengan potensi serta persoalan masing-masing wilayah. Sinergi tersebut diharapkan membuat pembangunan desa semakin berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi tanpa mengabaikan karakter lokal. Perguruan tinggi pada akhirnya didorong tidak hanya menghasilkan pengetahuan di lingkungan akademik, tetapi juga membawa kemampuan tersebut untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat. Kolaborasi antarkementerian ini menjadi salah satu upaya memperkuat posisi kampus sebagai mitra pembangunan yang dapat memberikan dampak langsung hingga tingkat desa.





