Jakarta, 1 September 2026 – Gubernur Banten Andra Soni menyebut penerapan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) mampu meningkatkan produktivitas panen padi secara signifikan. Dalam panen raya yang digelar di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (1/9/2026), produktivitas padi menggunakan metode tersebut mencapai 12,88 ton gabah per hektare. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan hasil panen normal yang berada di kisaran enam ton per hektare. Capaian tersebut dinilai menjadi bukti bahwa modernisasi pertanian dapat memberikan dampak nyata terhadap produksi. Pemerintah Provinsi Banten pun mendorong agar penerapan teknologi pertanian modern terus diperluas.
Andra Soni mengatakan penerapan PM-AAS tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga harus memberikan dampak terhadap kesejahteraan petani. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penerapan metode tersebut, keuntungan bersih petani disebut dapat mencapai sekitar Rp49 juta per musim tanam untuk setiap hektare lahan. Pemerintah daerah ingin memastikan peningkatan produktivitas tersebut benar-benar dirasakan oleh petani. Karena itu, Andra meminta agar capaian yang muncul dalam perhitungan produksi tidak berhenti sebagai angka statistik. Ia bahkan menyatakan akan melakukan pengecekan langsung bersama pemerintah daerah dan aparat terkait untuk memastikan kondisi petani sesuai dengan hasil yang dilaporkan.
Penerapan PM-AAS saat ini mencakup lahan sekitar 100 hektare yang tersebar di tiga wilayah, yakni Kelurahan Margaluyu, Kilasah, dan Kasunyatan di Kecamatan Kasemen. Program tersebut melibatkan tujuh kelompok tani dengan menggunakan varietas padi unggul Inpari 32. Penerapan teknologi dilakukan dalam berbagai tahapan budidaya untuk meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas lahan. Hasil panen kemudian diukur melalui metode survei yang dilakukan terhadap sampel tanaman di lahan pertanian. Capaian tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengevaluasi kemungkinan perluasan penerapan pertanian modern di wilayah lainnya.
Hasil produktivitas 12,88 ton per hektare diperoleh berdasarkan Survei Ubinan Tanaman Pangan yang dilakukan BPS Kota Serang. Dalam pengukuran tersebut, petugas mengambil sampel petak sawah berukuran 2,5 meter x 2,5 meter. Dari sejumlah sampel yang diperiksa, berat hasil padi mencapai sekitar 8,05 kilogram. Hasil tersebut kemudian dikonversikan untuk mendapatkan perkiraan produktivitas dalam satuan hektare. Pengukuran tersebut menjadi salah satu dasar untuk melihat capaian penerapan PM-AAS di wilayah pertanian Kota Serang.
Modernisasi pertanian juga membutuhkan peningkatan kemampuan petani dalam menggunakan berbagai peralatan teknologi. Salah satu peralatan yang menjadi perhatian adalah drone pertanian yang dapat digunakan untuk membantu kegiatan budidaya dan pemantauan tanaman. Andra meminta para pendamping terus memberikan pelatihan hingga petani mampu mengoperasikan peralatan tersebut secara mandiri dan memiliki sertifikasi. Kemampuan tersebut dinilai penting agar bantuan peralatan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dengan penguasaan teknologi yang lebih baik, petani diharapkan tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu mengelola sistem pertanian modern secara berkelanjutan.
Di samping teknologi, pemerintah daerah menilai keberadaan lahan pertanian dan jaringan irigasi tetap menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas. Pemprov Banten berkomitmen mempertahankan luas Lahan Baku Sawah yang telah ditetapkan di sejumlah wilayah. Perlindungan lahan diperlukan agar peningkatan produktivitas tidak diikuti dengan berkurangnya areal pertanian akibat perubahan penggunaan lahan. Pemerintah juga akan terus mengoptimalkan jaringan irigasi yang menjadi salah satu penunjang utama kegiatan budidaya padi. Ketersediaan air yang memadai diharapkan dapat menjaga keberlanjutan produksi dan mengurangi risiko gangguan pada musim tanam.
Banten sendiri memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Produksi padi yang tinggi membuat provinsi tersebut menjadi salah satu daerah penyangga kebutuhan pangan di Indonesia. Modernisasi melalui PM-AAS diharapkan dapat memperkuat posisi tersebut dengan meningkatkan hasil dari lahan yang tersedia. Pemerintah daerah juga melihat peningkatan produktivitas sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga ketersediaan pangan. Keberhasilan program di Kota Serang diharapkan dapat menjadi contoh yang dapat dikembangkan di sentra-sentra pertanian lainnya.
Andra menekankan bahwa modernisasi pertanian tidak boleh berhenti pada keberhasilan satu kali panen. Menurutnya, keberlanjutan program harus terlihat dari konsistensi produksi, peningkatan pendapatan petani, serta terserapnya hasil pertanian dengan baik. Pendampingan kepada petani juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar teknologi yang sudah diperkenalkan benar-benar digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten maupun kota perlu menjaga sinergi untuk memastikan program berjalan secara konsisten. Dengan demikian, penerapan PM-AAS diharapkan tidak hanya meningkatkan angka produksi, tetapi juga membawa perubahan nyata bagi kehidupan petani.
Gubernur Banten optimistis pengembangan pertanian modern dapat semakin memperkuat posisi daerah sebagai penyangga pangan nasional. Peningkatan produktivitas melalui teknologi, perlindungan lahan sawah, penguatan irigasi, serta peningkatan kapasitas petani menjadi bagian dari strategi yang saling berkaitan. Jika diterapkan secara konsisten, pendekatan tersebut dapat membantu Banten menjaga produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Pemerintah daerah juga berharap modernisasi pertanian dapat berkontribusi terhadap target Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2045. Keberhasilan panen dengan metode PM-AAS di Kota Serang menjadi salah satu momentum untuk memperluas transformasi pertanian berbasis teknologi di Banten.





