Roma, 19 September 2026 – Pelatih AS Roma Gian Piero Gasperini menilai timnya belum berada pada level yang sama dengan Inter Milan meski kedua klub sama-sama mengawali Serie A musim 2026/2027 dengan hasil sempurna. Gasperini menyampaikan penilaian tersebut menjelang pertemuan Roma melawan Inter di Stadion Olimpico, Sabtu, 19 September 2026. Menurut pelatih berusia 68 tahun tersebut, pencapaian Inter selama beberapa musim terakhir menjadi ukuran objektif untuk melihat perbedaan level antara kedua tim. Nerazzurri mampu mempertahankan konsistensi di kompetisi domestik sekaligus bersaing di level tertinggi Eropa. Roma, sebaliknya, masih berada dalam proses meningkatkan kualitas agar dapat bertahan di kelompok teratas Serie A. Gasperini menegaskan timnya harus berfokus pada perkembangan sendiri apabila ingin mendekati standar yang telah ditetapkan Inter.
Roma sebenarnya memasuki pertandingan besar tersebut dengan kondisi yang sangat positif. Giallorossi mengumpulkan 12 poin dari empat pertandingan pertama Serie A setelah mencatat empat kemenangan beruntun. Inter juga memiliki 12 poin dan mempertahankan catatan sempurna sehingga pertemuan di Olimpico mempertemukan dua tim yang berada di papan atas klasemen. Roma telah mencetak 12 gol dan baru kebobolan satu kali dalam empat pertandingan liga. Inter datang dengan kekuatan ofensif yang juga menonjol setelah membalikkan keadaan dan mengalahkan Udinese 5-3 pada pertandingan sebelumnya. Meski catatan awal Roma sangat baik, Gasperini menilai empat pertandingan belum cukup untuk menyimpulkan kekuatan sebuah tim sepanjang musim.
Gasperini menyebut Inter sebagai tim yang menjadi patokan bagi klub-klub Serie A. Penilaiannya tidak hanya didasarkan pada kedalaman skuad, tetapi terutama pada hasil yang dikumpulkan Nerazzurri selama beberapa musim. Inter mampu mencatat banyak kemenangan, mengumpulkan poin secara konsisten dan tampil kompetitif di Liga Champions. Gasperini juga menyinggung keberhasilan klub tersebut mencapai dua final Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir sebagai bukti kemampuan mereka bersaing di level Eropa. Menurutnya, fakta tersebut harus diakui secara objektif oleh tim-tim lain yang ingin mengejar posisi Inter. Roma kini berusaha memasuki level persaingan yang lebih tinggi, tetapi masih membutuhkan konsistensi sebelum dapat dianggap mencapai standar yang sama.
Perkembangan Roma sendiri memberikan alasan bagi Gasperini untuk tetap optimistis. Dibandingkan musim sebelumnya, ia melihat timnya telah mengalami peningkatan dan mampu menempatkan diri dalam posisi yang lebih baik. Empat kemenangan beruntun pada awal Serie A menjadi indikasi positif dari perkembangan tersebut. Roma membuka musim dengan kemenangan 4-0 atas Fiorentina sebelum kembali menang 4-0 ketika bertandang ke markas Lecce. Giallorossi kemudian mengalahkan Atalanta 2-1 dan menundukkan Torino 2-0. Di Liga Champions, Roma juga mendapatkan hasil imbang 1-1 ketika menghadapi Fenerbahce. Rangkaian hasil tersebut membuat duel melawan Inter menjadi kesempatan penting untuk mengukur sejauh mana perkembangan tim Gasperini.
Pelatih asal Italia tersebut tidak ingin antusiasme besar menjelang pertandingan justru menjadi beban bagi para pemain. Gasperini menilai atmosfer positif dan keinginan besar untuk menghadapi pertandingan penting harus dimanfaatkan sebagai sumber energi. Stadion Olimpico diperkirakan dipenuhi pendukung Roma sehingga pertandingan akan berlangsung dalam atmosfer yang kuat. Baginya, laga seperti menghadapi Inter merupakan pertandingan yang ingin dimainkan setiap pesepak bola karena mempertemukan dua tim dengan awal musim sangat baik. Gasperini juga menilai pertandingan tersebut tidak membutuhkan motivasi mental tambahan karena para pemain memahami besarnya tantangan yang akan dihadapi. Ia meminta skuadnya tetap tenang dan memiliki kejernihan dalam membaca situasi di lapangan. Roma harus menemukan cara untuk mengimbangi kekuatan Inter tanpa kehilangan karakter permainan yang telah dibangun.
Catatan pertemuan pribadi Gasperini dengan Inter menjadi tantangan tersendiri menjelang pertandingan. Dalam 17 pertemuan terakhir melawan Nerazzurri, tim asuhan Gasperini mencatat lima hasil imbang dan 12 kekalahan. Bahkan, ia mengalami kekalahan dalam sepuluh pertemuan terakhir secara beruntun sejak 2022 hingga 2026. Kemenangan terakhir Gasperini atas Inter terjadi pada 2018 ketika masih menangani Atalanta dan membawa klub Bergamo tersebut menang 4-1. Setelah itu, Inter menjadi salah satu lawan yang paling sulit ditaklukkan oleh tim asuhannya. Gasperini mengakui statistik tersebut buruk, tetapi menilai bukan hanya dirinya yang mengalami kesulitan ketika menghadapi Inter dalam beberapa tahun terakhir.
Kesulitan tersebut tetap terjadi meski Inter mengalami pergantian pelatih. Gasperini pernah menghadapi Nerazzurri ketika ditangani Antonio Conte, Simone Inzaghi hingga Cristian Chivu, tetapi hasil yang diperolehnya dalam beberapa tahun terakhir tetap tidak memuaskan. Ia bahkan menanggapi dengan santai ketika Inter disebut sebagai “kryptonite” dalam perjalanan kepelatihannya. Gasperini menilai kekuatan Nerazzurri bukan sekadar persoalan pendekatan taktik tertentu, melainkan kombinasi kualitas pemain, organisasi permainan dan konsistensi yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Situasi serupa menurutnya pernah terjadi ketika Juventus mendominasi sepak bola Italia dengan meraih gelar liga secara beruntun. Bagi Roma, cara untuk mengubah situasi bukan dengan terlalu memikirkan catatan masa lalu, tetapi meningkatkan level permainan sendiri.
Roma memiliki modal pertahanan yang kuat untuk mencoba menghentikan produktivitas Inter. Dalam empat pertandingan pertama Serie A, Giallorossi baru kemasukan satu gol dan menjadi tim dengan salah satu pertahanan terbaik pada awal musim. Sebaliknya, Inter memiliki serangan paling produktif sehingga pertandingan mempertemukan kekuatan utama kedua tim dalam aspek berbeda. Roma juga menerapkan garis pertahanan tinggi dan tekanan agresif yang menjadi ciri permainan Gasperini. Pendekatan tersebut dapat membantu mereka merebut bola lebih cepat, tetapi juga menyisakan ruang apabila tekanan pertama berhasil dilewati lawan. Inter memiliki pemain yang mampu memanfaatkan transisi dengan cepat sehingga Roma harus menjaga keseimbangan ketika menyerang. Pertarungan taktik tersebut menjadi salah satu ujian terbesar bagi perkembangan Giallorossi pada awal musim ini.
Gasperini pada akhirnya melihat pertandingan menghadapi Inter sebagai alat ukur yang lebih penting daripada sekadar pembuktian posisi Roma di klasemen sementara. Ia puas dengan perkembangan timnya, tetapi belum ingin menarik kesimpulan mengenai peluang dalam persaingan gelar setelah baru beberapa pertandingan dimainkan. Inter tetap ditempatkan sebagai standar yang ingin dikejar karena konsistensi hasil mereka selama beberapa tahun terakhir. Roma memiliki kesempatan menunjukkan bahwa jarak tersebut mulai berkurang ketika kedua tim bertemu di Olimpico. Kemenangan bukan hanya akan mempertahankan catatan sempurna Giallorossi, tetapi juga menjadi hasil penting dalam proses meningkatkan level tim. Namun, Gasperini menegaskan Roma terlebih dahulu harus membuktikan kemampuan bersaing secara konsisten sebelum dapat menempatkan diri sejajar dengan tim yang menurutnya masih menjadi tolok ukur sepak bola Italia.




