Jakarta, 13 September 2026 – BMW terus mempercepat pengembangan kendaraan berbahan bakar hidrogen dengan melakukan pengujian terhadap iX5 Hydrogen generasi terbaru yang diproyeksikan memiliki jarak tempuh hingga sekitar 750 kilometer. Model tersebut dikembangkan menggunakan basis BMW X5 dan menjadi bagian dari strategi perusahaan memperluas pilihan teknologi kendaraan rendah emisi selain mobil listrik berbasis baterai. Teknologi sel bahan bakar hidrogen memungkinkan kendaraan menghasilkan listrik sendiri melalui reaksi antara hidrogen dan oksigen untuk menggerakkan motor listrik. BMW melihat sistem tersebut memiliki potensi terutama bagi kendaraan yang membutuhkan daya jelajah panjang dan proses pengisian energi relatif cepat. Pengujian dilakukan untuk mengevaluasi efisiensi, performa, ketahanan sistem, serta kemampuan kendaraan menghadapi berbagai kondisi penggunaan. Hasil dari tahapan ini akan menjadi bagian penting sebelum teknologi tersebut diarahkan menuju produksi massal.
BMW sebenarnya telah mengembangkan teknologi hidrogen selama beberapa dekade dan menggunakan iX5 Hydrogen sebagai salah satu kendaraan demonstrasi untuk menguji penerapannya di dunia nyata. Generasi sebelumnya diproduksi dalam jumlah terbatas dan digunakan untuk menjalani pengujian di berbagai negara dengan kondisi iklim serta karakter jalan berbeda. Data dari program tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan sistem generasi berikutnya agar lebih ringkas, efisien, dan memiliki kemampuan jelajah lebih jauh. Peningkatan menuju target sekitar 750 kilometer menunjukkan BMW berusaha membuat kendaraan hidrogen semakin kompetitif untuk perjalanan jarak jauh. Pengembangan juga diarahkan untuk memastikan karakter berkendara tetap sesuai dengan standar kendaraan premium perusahaan. BMW tidak hanya mengejar angka jarak tempuh, tetapi juga kestabilan performa ketika kendaraan digunakan secara intensif.
Pada kendaraan sel bahan bakar, hidrogen bertekanan tinggi disimpan dalam tangki khusus sebelum dialirkan menuju sistem fuel cell. Di dalam sistem tersebut, hidrogen bereaksi secara elektrokimia dengan oksigen dari udara untuk menghasilkan energi listrik yang kemudian digunakan oleh motor penggerak. Proses tersebut menghasilkan air sebagai produk utama pada kendaraan sehingga berbeda dengan mesin pembakaran internal konvensional yang menghasilkan emisi karbon dioksida dari knalpot. Kendaraan tetap menggunakan komponen baterai untuk menyimpan energi dalam jumlah tertentu dan membantu memenuhi kebutuhan tenaga ketika pengemudi membutuhkan akselerasi. Kombinasi antara sel bahan bakar, baterai, dan motor listrik memungkinkan sistem bekerja secara fleksibel sesuai kondisi perjalanan. Tantangan utama pengembangannya terletak pada efisiensi keseluruhan sistem, biaya produksi, penyimpanan hidrogen, serta ketersediaan infrastrukturnya.
Salah satu keunggulan yang ingin ditawarkan BMW melalui iX5 Hydrogen adalah waktu pengisian yang relatif singkat dibandingkan proses pengisian baterai kendaraan listrik berkapasitas besar. Pengisian tangki hidrogen pada kendaraan sel bahan bakar pada prinsipnya dapat dilakukan dalam hitungan menit apabila tersedia stasiun dengan tekanan dan fasilitas yang sesuai. Karakter tersebut berpotensi menarik bagi pengguna yang sering melakukan perjalanan jauh dan tidak ingin menghabiskan waktu lama untuk mengisi energi kendaraan. Target jarak tempuh sekitar 750 kilometer semakin memperkuat orientasi tersebut karena mobil dapat digunakan menempuh perjalanan antarkota sebelum membutuhkan pengisian berikutnya. Meski demikian, keuntungan itu sangat bergantung pada tersedianya jaringan stasiun pengisian hidrogen. Tanpa infrastruktur yang memadai, kemampuan teknis kendaraan akan sulit dimanfaatkan secara optimal oleh konsumen.
BMW juga terus bekerja sama dengan Toyota dalam pengembangan teknologi sel bahan bakar. Kolaborasi kedua perusahaan memungkinkan pertukaran teknologi dan pengembangan komponen untuk meningkatkan skala produksi sekaligus menekan biaya sistem hidrogen. Toyota memiliki pengalaman panjang melalui pengembangan kendaraan seperti Mirai, sedangkan BMW membawa keahlian dalam integrasi sistem tersebut ke kendaraan premium. Kerja sama ini menjadi semakin penting menjelang rencana BMW menghadirkan kendaraan hidrogen produksi massal pada paruh kedua dekade ini. Pengembangan bersama juga diharapkan membantu menciptakan komponen yang lebih ringkas sehingga dapat dipasang pada lebih banyak jenis kendaraan. Strategi tersebut menunjukkan BMW tidak memandang hidrogen sebagai proyek eksperimental semata, tetapi sebagai salah satu teknologi yang berpotensi melengkapi kendaraan listrik baterai.
Generasi baru sistem sel bahan bakar juga diarahkan untuk mempunyai ukuran lebih kompak dibandingkan teknologi sebelumnya. Pengurangan dimensi memberikan keuntungan karena produsen memiliki ruang lebih besar untuk mengatur posisi tangki, baterai, motor listrik, kabin, serta komponen lainnya. Efisiensi yang lebih tinggi juga diperlukan agar jumlah hidrogen yang dibawa kendaraan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan jarak perjalanan lebih panjang. Pada saat bersamaan, peningkatan kepadatan daya memungkinkan sistem menghasilkan performa yang dibutuhkan tanpa harus menggunakan perangkat berukuran terlalu besar. BMW harus memastikan seluruh peningkatan tersebut tidak mengurangi aspek keselamatan kendaraan, terutama karena hidrogen disimpan menggunakan tangki bertekanan tinggi. Berbagai pengujian ekstrem karena itu menjadi bagian penting sebelum kendaraan dapat memasuki tahap produksi komersial.
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, pengembangan mobil hidrogen masih menghadapi persoalan besar pada sisi infrastruktur. Stasiun pengisian hidrogen untuk kendaraan penumpang masih jauh lebih sedikit dibandingkan jaringan pengisian kendaraan listrik baterai di banyak negara. Pembangunan fasilitas tersebut membutuhkan investasi besar karena mencakup produksi, penyimpanan, transportasi, serta sistem pengisian hidrogen dengan standar keselamatan tinggi. Dampak lingkungan kendaraan juga sangat dipengaruhi cara hidrogen diproduksi. Apabila hidrogen dihasilkan menggunakan energi terbarukan melalui proses elektrolisis, emisi keseluruhan siklus energinya dapat ditekan secara signifikan. Sebaliknya, hidrogen yang diproduksi menggunakan bahan bakar fosil tanpa pengendalian emisi dapat mengurangi manfaat lingkungan yang ingin dicapai dari penggunaan kendaraan sel bahan bakar.
Karena tantangan tersebut, BMW tidak menempatkan hidrogen sebagai pengganti tunggal kendaraan listrik berbasis baterai. Perusahaan mengembangkan pendekatan yang memberikan ruang bagi beberapa teknologi untuk digunakan berdasarkan kebutuhan konsumen, kondisi pasar, ketersediaan energi, dan infrastruktur di masing-masing negara. Mobil listrik baterai tetap menjadi bagian utama transformasi elektrifikasi BMW, sementara hidrogen dipandang sebagai pilihan tambahan yang berpotensi efektif untuk kebutuhan tertentu. Kendaraan dengan jarak perjalanan panjang menjadi salah satu segmen yang dinilai dapat memperoleh keuntungan dari kemampuan pengisian hidrogen yang cepat. Pendekatan tersebut juga memberikan fleksibilitas apabila perkembangan infrastruktur energi berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya. BMW berharap diversifikasi teknologi dapat membantu mempercepat pengurangan penggunaan bahan bakar fosil pada sektor transportasi.
Pengujian iX5 Hydrogen dengan target jarak tempuh sekitar 750 kilometer juga akan menjadi kesempatan untuk mengumpulkan data penggunaan nyata sebelum teknologi memasuki skala produksi lebih besar. Insinyur dapat mengevaluasi konsumsi hidrogen dalam berbagai kecepatan, temperatur lingkungan, kondisi jalan, dan gaya berkendara. Performa sistem pendinginan serta kemampuan sel bahan bakar mempertahankan daya dalam perjalanan panjang juga menjadi aspek penting yang perlu diuji. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan perangkat lunak pengelolaan energi agar penggunaan hidrogen, baterai, dan energi hasil regenerasi dapat berlangsung secara efisien. Ketahanan komponen selama penggunaan jangka panjang menjadi perhatian lain karena kendaraan produksi massal harus mampu memenuhi standar reliabilitas yang tinggi. Seluruh tahapan pengembangan tersebut akan menentukan seberapa kompetitif kendaraan hidrogen BMW ketika nantinya berhadapan langsung dengan mobil listrik baterai.
BMW pada akhirnya ingin membawa teknologi sel bahan bakar keluar dari tahap demonstrasi menuju produk yang dapat digunakan konsumen secara lebih luas. iX5 Hydrogen menjadi salah satu platform penting untuk menguji kesiapan teknologi sebelum kendaraan hidrogen produksi massal diperkenalkan. Target jarak tempuh sekitar 750 kilometer memperlihatkan fokus perusahaan terhadap salah satu keunggulan utama teknologi tersebut, yakni kemampuan melakukan perjalanan panjang dengan waktu pengisian relatif singkat. Namun, keberhasilannya tidak hanya bergantung pada kendaraan karena pembangunan jaringan pengisian serta ketersediaan hidrogen rendah karbon akan menjadi faktor yang sama pentingnya. Jika ekosistem tersebut berkembang, kendaraan sel bahan bakar dapat menjadi pelengkap bagi mobil listrik baterai dalam proses dekarbonisasi transportasi. Pengujian yang berlangsung sekarang menjadi tahapan penting untuk menentukan seberapa besar peran hidrogen dalam portofolio kendaraan BMW pada masa mendatang.




